How to enable pressed back button to exit the app on android studio

When the user presses the back button, the application will display a confirmation dialog. I added this code outside onCreate. And it works well.

——————————————————–
@Override
public void onBackPressed() {
new AlertDialog.Builder(this)
.setMessage(“Are you sure want to exit?”)
.setPositiveButton(“Exit”, new DialogInterface.OnClickListener() {
@Override
public void onClick(DialogInterface dialog, int which) {
XxxxActivity.super.onBackPressed();
Intent intent = new Intent(Intent.ACTION_MAIN);
intent.addCategory(Intent.CATEGORY_HOME);
intent.setFlags(Intent.FLAG_ACTIVITY_NEW_TASK);
startActivity(intent);
finish();
}
})
.setNegativeButton(“Cancel”, null)
.show();
}

—————————-

Change the Xxxx fo your activity name.

Software Aplikasi Quick Count Pemilu atau Pilkada

Software Aplikasi Quick Count Pemilu memiliki fitur lengkap untuk melakukan penghitungan cepat dari sumber pemungutan suara/TPS di seluruh Indonesia, atau dari suatu provinsi tertentu, atau dari wulayah kabupaten/kota tertentu. Aplikasi ini dirancang agar dapat digunakan untuk melakukan quick count misalnya pilihan presiden, pilihan anggota legistlatif, pilihan gubernur, pilihan bupati/walikota. Dilengkapi dengan database 34 nama provinsi, 514 nama kabupaten/kota, 7.094 nama kecamatan, 82.505 nama kelurahan di Indonesia. Tersedia dalam tiga versi yakni: versi Windows 32 bit, versi Windows 64bit dan versi apk untuk smartphone dan tablet.

Di dalamnya terdapat fitur control panel untuk admin dan fitur control panel untuk koresponden. Admin adalah seseorang yang melakukan penghimpunan dan pemantauan perolehan suara dari suatu wilayah tertentu sesuai dengan channel yang dibuatnya. Seorang admin memiliki rekan kerja yang dinamai Koresponden. Koresponden ini menempatkan diri di TPS-TPS yang tersebar di seluruh wilayah pemungutan suara. Koresponden mengirimkan data nomor TPS dan perolehan suara tiap-tiap kandidat ke Channel yang telah direkomendasikan oleh seorang Admin. Para koresponden dapat download aplikasi gratis dan menginstallnya di smartphone mereka. Data yang dikirim oleh koresponden akan terkumpul dalam server data yang dinamai Channel yang dibuat oleh admin tadi. Seorang admin dapat membuat lebih dari satu Channel, demikian juga seorang Koresponden dapat bergabung dalam lebih dari satu Channel dan memberikan kontribusi data ke Channel-Channel yang diikutinya. Admin memiliki kewenangan untuk melakukan approve kepada koresponden yang bergabung di channelnya. Request gabung di channel dari seorang calon koresponden harus disetujui dulu oleh admin pemilik channel tersebut.

Selengkapnya silakan baca dan download softwarenya DI SINI

Cara Mengatasi Card Reader Laptop Tidak Bisa Terbaca

Setelah beberapa bulan mengalami masalah Card Reader pada laptop yang tidak bisa membaca SD Card, kali ini saya dapat menemukan solusinya. Yang menjadi masalah adalah ketika driver sudah terinstal dengan baik, tetapi pada saat SD Card di insert, hardware tetap tidak dapat terdeteksi. Maka salah satu cara untuk mencoba mengatasinya adalah sebagai berikut:

  1. Buka Start Menu.
  2. Gunakan fitur Search.
  3. Ketikkan diskmgmt.msc
  4. Klik kanan pada diskmgmt.msc lalu “Run as Administrator”
  5. Pada kolom bawah akan muncul jendela dengan identitas “disk 1” > klik kanan.
  6. Klik pada “Change Drive Letter and Paths”
  7. Lalu pilih salah satu drive yang bisa diaktifkan, misalnya “G”.
  8. OK

Dengan cara di atas, ternyata masalah yang saya alami dapat diatasi. Dan sekarang Card Reader pada laptop dapat berfungsi kembali untuk membaca SD Card.

Secara detail silakan lihat pada tayangan di youtube ini:

Salah Kaprah Penggunaan Kata “Sing” Pada Masyarakat Solo

Masyarakat Solo memiliki dialek tersendiri dalam penggunaan kata “sing” dalam tutur bahasa sehari-hari. Yang dimaksud Solo di sini adalah masyarakat yang berada di wilayah bekas karesidenan Surakarta, yang meliputi:  Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Boyolali. Berdasarkan pengamatan penulis, masyarakat dari daerah tersebut memiliki kesamaan dalam penggunaan kata “sing”. Dalam judul penulisan ini saya beri judul “salah kaprah” karena menurut penulis, mereka menggunakan kata “sing” adalah salah tetapi sudah kaprah, atau sudah dianggap benar. Dalam pembahasan ini, yang dimaksud “orang Jawa lainnya” adalah orang Jawa yang tinggal di Yogyakarta, Jawa Tengah (selain Solo), dan Jawa Timur. Orang jawa selain Solo, memiliki kesamaan dalam penggunaan kata “sing”.

Contoh soal:
Pertanyaan: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku dimana?
Jawaban: Sing tuku buku nang toko Gramedia. // Yang membeli buku di toko Gramedia.

Penduduk Solo mengungkapkan pertanyaan di atas dengan maksud menanyakan tempat membeli buku dimana. Maka marilah kita analisa. Jika pertanyaan tersebut dilontarkan pada masyarakat Jawa di luar Solo. Maka akan menjadi dialog demikian:

Orang Solo: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku dimana?
Orang Jawa lain: Sing tuku buku wis lunga. // Yang membeli buku sudah pergi.

Dialog menjadi tidak sambung. Karena penggunaan kata “Sing” dalam dialog di atas bagi orang Jawa lainnya adalah menanyakan subjek. Sedangkan maksud orang Solo mereka menanyakan keterangan tempat. Untuk lebih jelasnya marilah kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dialog antara orang Solo dengan orang Solo (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat).
Pertanyaan: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku di mana?
Jawaban: Sing tuku buku nang toko Gramedia. // Yang membeli buku di toko Gramedia.

Dialog antara orang Jawa lainnya (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat):
Pertanyaan: Tukune buku nang ngendi? // Membelinya buku dimana?
Jawaban: Tukune buku nang toko Gramedia. // Membelinya buku di toko Gramedia.

atau

Dialog antara orang Jawa lainnya  (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat):
Pertanyaan: Le tuku buku nang ngendi? // Membelinya buku dimana?
Jawaban: Le tuku buku nang toko Gramedia. // Membelinya buku di toko Gramedia.

Penggunaan kata “sing” dalam pertanyaan dengan maksud menanyakan subjek, antara orang Solo dengan orang Jawa lainnya tidak ada perbedaan.
Contoh dialog pada umumnya (Dengan maksud menanyakan subjek):
Pertanyaan: Sing tuku buku sapa? // Yang membeli buku siapa?
Jawaban: Sing tuku buku Paeran. // Yang membeli buku Paeran.

Dengan melihat contoh kasus di atas, maka bagi orang Solo dalam mengungkapkan pertanyaan menggunakan kata “sing”, tidak ada perbedaan antara maksud menanyakan subjek dengan maksud menanyakan keterangan tempat. Keduanya menggunakan kata “sing”.
Contohnya:

  1.  “Sing tuku buku sapa?” Dengan maksud: Yang membeli buku siapa?
  2.  “Sing tuku buku nang ngendi?” Dengan maksud: Membelinya buku dimana?
  3.  “Sing nulis sapa?”  Dengan maksud: Yang menulis siapa?
  4.  “Sing nulis nang ngendi?” Dengan maksud: Menulisnya dimana?

Dialek tersebut di atas (nomor: 2 dan 4) bagi orang Jawa lainnya akan terasa aneh dan lucu, tetapi bagi orang Solo akan terasa biasa. Dialek di atas jika diterapkan pada orang Jawa lainnya akan menjadi seperti berikut ini:

  1.  “Sing tuku buku sapa?” Dengan maksud: Yang membeli buku siapa?
  2.  “Tukune buku nang ngendi?” atau “Le tuku buku nang ngendi?” Dengan maksud: Membelinya buku dimana?
  3.  “Sing nulis sapa?”  Dengan maksud: Yang menulis siapa?
  4.  “Nulise nang ngendi?” atau “Le nulis nang ngendi?” Dengan maksud: Menulisnya dimana?

Perbedaan lain yang saya temukan adalah dalam penggunaan kata “karak ” –baca: karag-. Kata “karak” bagi masyarakat Solo menunjuk makanan berupa kerupuk yang terbuat dari nasi. Bagi orang Jawa lain akan menyebut makanan itu dengan nama “lempeng” atau “krupuk puli”. Bagi orang Jawa lainnya, “karak” adalah nasi yang dijemur dan menjadi kering.

Itulah sekelumit pertentangan bahasa yang sering kami alami antara saya dengan isteri. 😀 😀 😀

Review Perbandingan Aplikasi Telegram dengan WhatsApp WA

telegramiconAda hal menarik yang bisa ditawarkan oleh aplikasi Telegram
Berikut ini beberapa hal perbandingan antara aplikasi WhatsApp dengan Telegram berdasarkan eksplore pengalaman memakai aplikasi Telegram dan WhatsApp. Pada aplikasi Telegram terdapat hal-hal sebagai berikut:

  • member grup bisa ribuan, di webnya menyebutkan sampai 5000 member, orang satu kelurahan bisa jadi satu grup dong…he..he… 😀 sementara saat review ini ditulis WA cuma sampai 256 member.
  • lebih ringan karena berbasis server (cloud) dibandingkan dengan WA yang berbasis device.
  • ukuran aplikasi lebih kecil sehingga tidak makan space memory dibanding WA yang lebih besar.
  • pesan yang telah terkirim bisa dihapus (tarik kembali), semacam retract pada bbm.
  • disediakan cloud penyimpanan file/data, dengan cara chat dengan diri sendiri.
  • dapat kirim file beraneka format.
  • dapat kirim data/file sampai 1.5GB, sementara WA cuma 16MB. Bahkan Gmail membatasi cuma sampai 25MB.
  • bisa broadcast dengan fasilitas channel.
  • lebih aman karena disediakan secure chat.
  • powerfull sticker gratis.
  • pengaturan timer message (bisa destroy otomatis)
  • bisa diatur siapa saja yg bisa ganti icon grup, dll.
  • ada support chat dengan pihak Telegram jika menemui kesulitan.
  • bisa invite masuk grup dari grup WA dengan cara invitation link, sehingga tidak perlu menambahkan member satu per satu. Berfungsi untuk memudahkan migrasi ke grup Telegram.
  • Bagi programmer disediakan API utk development.

Setelah lihat keunggulan itu, masih juga belum mau move on???

Eits…. ada 2 kelemahan yang say atemukan yakni:

  • member grup tidak bisa lihat nomor HP anggota lain yang belum ada dalam contacts list. Tapi jika itu dianggap keunggulan maka nomor hp kita lebih privacy.
  • di Indonesia belum bisa voice call dan video call kayak WA, baru bisa di eropa dan beberapa negara yang ditunjuk.

Bagaimana fitur-fitur Telegram tersebut secara lebih jelas silakan lihat dalam video di sini: Telegram yang kami tayangkan di Youtube ini.