Kerancuan Bahasa Jawa

Artis Didi Kempot dan Manthous dalam kurun beberapa tahun yang lalu sempat menjadi ikon seni musik Jawa yang mereka populerkan melalui musik campur sari. Kebetulan saya sebagai orang Jawa asli, juga turut kasmaran dengan lagu-lagu mereka. Apa lagi ‘Sewu Kutha’ adalah sebuah lagu kenangan yang sangat menoreh, karena pada saat mencapai top hists,  lagu ini mengiringi saya dalam menjalankan tugas di tempat yang jauh, dan di sana setiap hari teman-teman selalu memutar lagu ini dengan tiada lelahnya, sekuat orang yang menyanyikannya, yang telah mengelilingi seribu kota.

Maka sering juga menonton klip-klip dari lagu-lagu campur sari ini dengan memutar VCD, meski cuma bajakan 10 rb dapat 3. Mungkin karena cuma VCD bajakan yang saya tonton, maka sering muncul rasa ketidaknyamanan ketika melihat tulisan lirik lagu yang muncul untuk memandu yang sering suka karaoke.

Kata-kata itu antara lain begini, “Sewu kuto uwis takliwati, …..  wis tak cobo nglalekake jenengmu seko atiku ….. saktenane aku ora ngapusi isih tresno sliramu…” dan seterusnya.

Coba perhatikan kata-kata yang saya cetak tebal dan italic tersebut. Kata ‘kuto’, ‘seko’, ‘cobo’, ‘tresno’. dan mungkin jika diteruskan pada lagu tersebut atau lirik-lirik lagu Jawa lainnya akan menemui kata-kata lain yang sama yang menggelitik hati. Bahkan sering juga di literatur-literatur yang formal dan bahkan di pinggir-pinggir jalan ditemukan kata-kata senada.

Menelusuri lebih dalam tentang bahasa Jawa, maka untuk menjadi tolok ukur kebenaran dalam penulisan ejaan Jawa, kita harus mengembalikan pada patokan bahasa Jawa, yakni ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga.

Kata “tresna” dalam bahasa Jawa dibaca ‘ tresna” huruf a seperti o dalam kata “Suharto”. Memang dalam lafal dibaca menjadi a seperti dalam kata Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi sebenarnya dan seharusnya dalam penulisan ejaan tetap menggunakan “a”. Karena na dalam kata tresna, jika dikembalikan dalam aksara Jawa, maka na adalah na nglegena (tanpa sandangan) berbeda dengan kata no yang penulisannya menggunakan taling tarung.

Banyak contoh kekeliruan yang sudah tidak mungkin dibetulkan antara lain dalam penulisan nama orang, nama tempat, kota, dan sebagainya. Contohnya:

  • Surabaya ditulis Surabaya (ini benar).
  • Mojokerto, seharusnya ditulis Majakerta.
  • Boyolali, seharusnya ditulis Bayalali.
  • Situbondo, seharusnya ditulis Situbanda.
  • Suharto, seharusnya penulisannya Suharta.
  • Susilo Yudhoyono, seharusnya ditulis Susila Yudhayana.
  • Rudi Muryanta, ditulis Rudi Muryanta (ini benar).
  • Tresno, seharusnya ditulis tresna.
  • Limo, seharusnya ditulis lima.
  • Sumber Kencono, seharusnya ditulis Sumber Kencana.
  • dan masih buaaaanyak lagi kesalahan penulisan ejaan yang ada hubungannya dengan bahasa Jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: