Pengalaman Mengerikan Berjumpa Dengan Hantu

Masih terbayang jelas masa-masa kecil kami di sebuah desa yang damai jauh dari keramaian kota, hanya dekat sawah ladang dan rimbunnya pepohonan yang semakin menampakkan keasrian alam.

Siang itu sepulang sekolah kami berdua, saya dan Tanto mengikuti beberapa orang tua yang membawa sesaji untuk diletakkan di sebuah bekas sumur tua, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘sumur gedhe’. Meski kini yang ada cuma tinggal tanah kosong yang ditumbuhi semak-semak. Kami tidak tahu persis mengapa tempat itu menjadi dikeramatkan oleh warga kampung sampai saat itu. Kampung kami memang masih kental sekali dengan berbagai hal yang bersifat animisme. Sehingga setiap ada warga yang mempunyai hajat seperti penganten dan sunatan, kami akan dengan mudah menjumpai sejumlah sesaji yang dihidangkan pada sebuah ‘encek’, semacam bambu yang dianyam sedemikian rupa agar bisa untuk menaruh berbagai makanan sesaji, yang diletakkan di tempat-tempat yang dianggap keramat.

Setelah selesai melakukan upacara kecil peletakan sesaji dalam rangka pernikahan Mbak Karni tetangga kami, kami pun ikut pulang. “Nanti malam kamu ikut lagi nggak?” tanya Mbah Paijem kepada kami. “Kemana Mbah?” dengan sedikit penasaran kami menanggapinya sambil meneruskan perjalanan menyusuri jalan setapak di pinggir sungai. “Ya mengantar sesaji lagi,” sahut Lik Minah. Tanto yang agak penakut itu turut berbincang, “Ya ikut to Lik, tapi mengapa kok malam?” “Ya, karena memang syaratnya begitu,” lajut Lik Minah.

Hari terasa semakin panjang, karena kami terus memikirkan acara sesaji yang akan kami ikuti malam harinya, meskipun dengan keragu-raguan, jadi ikut atau tidak. Akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu datang juga. Saat ini temanku, Heru bergabung dengan kami sehingga kami menjadi bertiga untuk mengikuti acara peletakan sesaji di bawah pohon besar yang tidak jauh dari makam desa. Malam itu terasa lebih sunyi dari malam-malam sebelumnya, yang terdengar hanya nyanyian binatang serangga malam, yang sesekali diselingi suara burung hantu yang tentu menambah bulu kuduk kami mengkirik.

Kami bersama menyusuri jalan setapak hanya dengan diterangi dua buah obor yang terbuat dari bambu yang ujungnya diberi sepet (kulit kelapa) dan diberi minyak tanah. Maklumnya saat itu listrik belum masuk desa, lampu senter pun jarang dimiliki oleh warga. Lik Minah kulihat membawa minuman dalam ceret dan juga plastik yang di dalamnya diisi gelas, sedangkan Mbah Paijem seperti tadi siang yang membawa sesaji yang diletakkan di atas encek. Malam itu kami ditemani Pak Paino yang membawa obor berjalan paling depan.

“Masih jauh Mbah?” tanyaku dengan suara lirih, sekedar untuk mengurangi rasa takutku. “Nggak, tuh sudah dekat.” jawab mbah Paino. Dalam keadaan gelap kami samar-samar melihat pohon besar yang sangat rimbun sudah mulai nampak. ‘Mungkin pohon itu yang dituju,’ gumam saya dalam hati. Dan benar setelah kira-kira tinggal 5 langkah di bawah pohon besar tadi, Lik Minah menyuruh kami menunggu di tempat kami berdiri. Lik Minah dan Mbah Paijem mendekat ke pohon itu sambil berjalan jongkok. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, apalagi berbicara. Suasana sunyi makin mencekam. Terlihat Mbah Paijem terlihat meletakkan sesaji tepat di antara dua akar besar, disusul Lik Minah seperti menuang minuman ke gelas lalu diletakkan di dekat sesaji itu. Tak lama kemudian mereka berdua mundur, dan Pak Paino ganti mendekat, obor ditangannya disodorkan ke arah saya, tanpa berkata sepatah katapun saya ulurkan tangan untuk menyambutnya, dan obor berpindah ke tangan saya. Saya perhatikan Pak Paino menyalakan api, ternyata ia membakar kemenyan yang memang menjadi salah satu unsur penting dalam sesaji. Agak lama Pak Paino duduk bersila di sana, sepertinya ia sedang mengucapkan mantra-mantra, yang kami tidak bisa mendengar sedikitpun apa yang diucapkannya. Lik Minah berdiri di dekat Tanto, “Lik, tadi menuang apa?” tanya Tanto. “Itu tadi kopi untuk minuman Kyai Danyang,” bisik Lik Minah.

Bau kemenyan yang menusuk hidung semakin membuat kami berdiri merapat, menandakan ketakutan semakin menjalar ke seluruh urat nadi. Sesekali saya pun memejamkan mata, tidak berani menghadapi jika terjadi hal-hal yang menakutkan. Saya merasakan keanehan, suara-suara binatang malam yang sejak perjalanan kami mengisi keheningan, kini sepertinya tak satupun juga yang berani bersuara. Tiba-tiba terasa hembusan angin dingin yang agak keras menerpa kulitku. Spontan seluruh bulu yang menempel di kulit badan terasa berdiri. Belum hilang rasa yang mencekam, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sesosok badan yang muncul dari balik pohon itu. Kami hampir lari bersama-sama, tetapi kami ingat pesan Pak Paino sewaktu di perjalanan tadi, kalau melihat sesuatu jangan ada yang lari atau pun berteriak. Remang-remang dibawah sinar obor, wajah sosok itu tidak tampak begitu jelas, dan samar-samar terlihat rambut panjang terurai yang menutupi wajahnya semakin membuat saya memutuskan untuk memejamkan mata. Tetapi sambil dipenuhi rasa penasaran, saya beranikan diri membuka mata, dan terlihat sesosok manusia tadi mengulurkan kedua tangannya, sepertinya mengacungkan jempolnya, disusul suara keras dari mulutnya, begini: “….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

“NUMERO UNO”

O, ternyata tadi sama Lik  Minah dikasih sesaji Indocafe Capucino. 

2 Tanggapan

  1. Haduhh… Ini udah baca serius.. Ujungnya malah kocak😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: