Penjelasan Guru Matematika Perkalian Kelas 2 SD

Menyimak kasus Erfas yang mengunggah hasil PR adiknya di Facebook dan membuat heboh, saya sangat prihatin. Ini bukan lagi kasus anak kelas 2 SD dengan gurunya, tetapi menjadi kasus mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro dengan seorang guru kelas 2 SD, yang mempermasalahkan mengenai 6 x 4. Dan lebih luas lagi sang guru tersebut harus menghadapi bully dari banyak orang. Tugas guru di era digital dan era internet semakin berat, karena bukan saja menghadapi kesulitan siswanya, tetapi menghadapi kesulitan orang banyak. Karena semakin banyak orang yang sulit memahami suatu masalah, dan menempatkan pada posisi yang sesuai dengan porsinya.

Mungkin singkat saja yang saya tulis di sini. Bahwa guru tersebut sudah mengajarkan sesuai pedoman yang dimilikinya. Coba saja simak buku bse dari Pusat Perbukuan, “Senang Matematika”  untuk SD/MI kelas2 tulisan amin mustoha, dkk, halaman 123-129.

Memang yang diajarkan di sini adalah penanaman konsep Perkalian Sebagai Penjumlahan Berulang.

Konsep yang diajarkan adalah bahwa 6 x 4 dibaca 6 kali, 4. Dengan kata lain 4-nya 6 kali. Dalam bahasa inggrisnya 6 times 4
Sehingga 6 x 4 berbeda konsepnya dengan 4 x 6. Memang secara hasil 4×6=6×4.
Tetapi dalam aplikasi kehidupan sehari-hari 4 x 6 sangat berbeda dengan 6 x 4.

Contohnya:
Ali mengambil buah jeruk sebanyak 6 kali, setiap mengambil membawa 4 buah jeruk => 6 kali, 4 => 6 x 4.
Konsep “enam kali” sangat berbeda dengan konsep “empat kali”.

Dengan demikian kata “KALI” mempunyai makna tersendiri, bukan sekedar  simbol operasi/bahasa matematika. Tetapi nantinya dikaitkan dengan aplikasi pada mata pelajaran lain sesuai dengan tema yang diajarkan di SD, terutama pada kurikulum 2013 menggunakan model pembelajaran tematik.

Dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa siswa lebih dahulu mengerti tentang penjumlahan. Kemudian dengan jembatan pengetahuan sebelumnya, digunakan untuk menginjak ke pembelajaran selanjutnya tentang perkalian.

Anak lebih dahulu telah mengerti bahwa 4 + 4 + 4+ 4 + 4 + 4 hasilnya adalah 24.
Dari konsep itu anak dibawa pada pemahaman tentang perkalian,
bahwa 4 + 4 + 4+ 4 + 4 + 4 dibaca bilangan 4 ada 6 kali dengan kata lain 4-nya 6 kali.
Diubah ke bahasa matematika menjadi 6 kali 4 ditulis dengan simbol  matematika menjadi 6 x 4.

Jadi: 6 kali, 4 (6×4) berbeda dengan 4 kali, 6 (4 x6).

Konsep ini juga nanti akan dibawa pada pembelajaran Pembagian Sebagai Pengurangan Berulang.
24:4= 24 – 4 – 4 – 4 – 4 – 4 – 4 =0

Ini contoh hasil scan dari buku tersebut Perkalian Kelas 2 SD

Buku Matematika Kelas 2 SD.Buku Matematika Kelas 2 SD_0001

Buku Matematika Kelas 2 SD_0002 Buku Matematika Kelas 2 SD_0003

76 Tanggapan

  1. misal : 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24 kenapa tidak ditulis 4 x 6 = 24 sedangkan yg jadi semesta pembicaraan adalah bilangan 4 sebanyak 6 kali ? apakah ini bukan logika yg terbalik ? mohon penjelasan terima kasih

  2. Urusan ginian pd ngedepanin proses, klo urusan uang pd mikir hasil. Bgmn pun cara penjumlahannya yg pntg hasilnya sama,jd guru itu buat anak cerdas n jgn buat dia pintar aja….. !!!

    • Karena ini matematika makanya proses penting pak. Matematika adalah ilmu logika, logika di sini bukan hanya dalam artian abstrak namun cara berpikir yg runut dan teratur karena ujung2nya nanti logika matematika tidak hanya dipakai untuk menentukan hitungan2 dan operasi matematis jika anda SMA dulu jurusan IPA pasti anda masih ingat ada materi khusus tentang Logika. Banyak orang yg mengira logika matematika mirip filsafat, benar, hanya saja logika matematika ini lebih terukur. Jadi jangan asal hasilnya sama.

  3. Assalamualaikum
    saya mencoba memberikan tanggapan tentang masalah ini
    Sebenarnya tidak ada yang bisa disalahkan pada kasus ini, mungkin saja gurunya berpacu pada kurikulum 2013. Sehingga metode yang diajarkan pada kelas 2 SD berpacu pada konsep penalaran.
    Wassalamualaikum

  4. lucu….tidak memahami tingkat pemikiran anak SD. terlalu mengajarkan konsep tidak memahami dalam segi pemikiran. teori yang keliru.

  5. TIMES-TIMES!!! GAK USAH BAWA-BAWA INGGRIS PAK!!!! ini Indonesia, soal pakai bahasa indonesia, jadi pemahaman juga indonesia. Kecuali kalau soalnya pakai bahasa inggris. Sebuah bangsa yang minder? kenapa tidak menggunakan makna Indonesia?

    contoh kongritnya “Matahari muncul berapa jam?” jawaban orang Indonesia pasti 12 jam. “The sun arises how many hours?” jawaban orang asing pasti lebih dari 14 jam, karena disana siang lebih lama.

    secara konsep matematika baku saja sudah jelas:
    n + n + n + n + n + n = 6n = 6 x n
    n = 4, jadi 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4

    • Sangat setuju dengan Mas Sujiwo Tejo.
      Saya cuma coba menguraikan pada para pembaca yg masih verbalisme dengan simbol operasi matematika “X”. Yg dalam bahasa sehari-hari harus dimengerti sebagai kata “Kali”.

    • n+n+n+n+n+n = 6xn = nx6 = 6n
      n=4, jadi…
      4+4+4+4+4+4 = 6×4 = 4×6 = 24

      jika ada notasi huruf dan angka, maka huruf diletakkan di depan angka, tetapi perkaliannya boleh dibolak-balik enggak masalah.
      Jangan sesat!!!
      tetap guru nya yang salah!!!

  6. apakah soal yang anda berikan berbentuk seperti pada scan soal matematika tersebut yg menceritakan tentang berapa kaki dari 4 ekor ayam ?
    mungkin jika soal itu yg anda berikan secara proses benar , dan itu memang soal yg lebih mengacu pada konsep, tetapi jika soalnya berbentuk seperti ini? 4+4+4+4+4+4 =…x…=

    apakah menurut anda itu sama dengan soal tentang menghitung kaki dri 4 ekor ayam? bukankan 4+4+4+4+4+4 = …x…= itu lebih mengacu kepada konteks , yg lebih mengutamakan angka real terlebih dahulu dibandingan angka 6 yg abstrak / angka yg dihasilkan melalui proses berfikir dan imajinasi seorang anak.

    secara konsep, 6 kali 4 bisa berbeda, tetapi matematika tidak selamanya dikatakan konsep 6 kali 4 bisa berbeda. Itu terjadi, karena matematika dipaksakan konseptual..

    • scan buku di atas adalah pembodohan buat anak-anak, jika dan hanya jika perkaliannya tidak boleh atau tidak diperbolehkan untuk dibolak-balik, padahal logika matematika apalagi sifat-sifat perhitungan matematika memperbolehkan perkalian dengan urutan penyebutan angka yang dibolak-balik.
      hati-hati, jangan sampai anak-anak kita menjadi bodoh hanya gara-gara buku ini!!!

  7. Ini sebenernya pertanyaan buat anak SD atau buat anak S2 sih kok yah bawa-bawa filosofi segala.

    Wajar lah kalau anak kelas 2 SD jawab kaya gitu (meskipun itu juga dibantu sama kakaknya). Kalau memang niatnya memberikan pendidikan yah gak perlu disalahin itu jawabannya. Cukup dikasih notifikasi pembetulan atau apalah namanya yang menjadikan anak mengerti dimana letak kesalahannya.

    Kasih nilai 20 padahal hasil akhirnya bener rasanya gimana gitu. Bisa-bisa mental anak didiknya down, gak mau sekolah lagi.

  8. jadi mikir kalo nyari nilai 4×6 atau 6×4 di kalkulator itu hasilnya benar atao salah….?? coba pake komputer di Excel nulis 6×4 atau 4×6 itu hasilnya benar tidak…..??? itu baru angka 4 dan 6 lah angka lain gimana….????

  9. SEMUA CARA/KONSEP/PROSES/URUTAN
    PERHITUNGAN MATEMATIKA DI BAWAH INI
    ADALAH BENAR DAN BERNILAI BENAR.

    JANGAN SESAT DENGAN PENILAIAN GURU
    YANG MEMPERSALAHKAN PR MATEMATIKA
    MURIDNYA, PADAHAL SEMUA JAWABANNYA
    ADALAH BENAR MENURUT KONSEP MATEMATIKA!

    1. 4+4+4+4+4+4 = 4×6 = 6×4 = 6+6+6+6 = 24.
    2. 6+6+6+6+6+6+6 = 6×7 = 7×6 = 7+7+7+7+7+7 = 42
    3. 7+7+7 = 7×3 = 3×7 = 3+3+3+3+3+3+3 = 21
    4. 9+9+9 = 9×3 = 3×9 = 3+3+3+3+3+3+3+3+3 = 27
    5. 4+4+4+4+4 = 4×5 = 5×4 = 5+5+5+5 = 20
    6. 8+8+8+8+8+8+8+8 = 8×8 = 64
    7. 7+7+7+7+7+7+7+7+7+7+7 = 7×11 = 11×7
    = 11+11+11+11+11+11+11 = 77
    8. 3+3+3+3+3+3+3+3+3 = 3×9 = 9×3 = 9+9+9 =27
    9. 4+4+4+4 = 4×4 = 16.
    10. 2+2+2+2+2+2+2 = 2×7 = 7×2 = 7+7 = 14

  10. Buat guru dan penulis yang terhormat.
    Anda menulis, “Ali mengambil buah jeruk sebanyak 6 kali, setiap mengambil membawa 4 buah jeruk => 6 kali, 4 => 6 x 4.
    Konsep “enam kali” sangat berbeda dengan konsep “empat kali”.

    maka ini tanggapan saya :

    Ali mengambil dan membawa 4 buah jeruk sebanyak 6 kali
    =
    6 kali Ali mengambil dan membawa sebanyak 4 buah jeruk.

    jadi apanya yang “berbeda sekali”?

  11. Menurut saya, metode pengajaran perkalian sebagai penjumlahan berulang (ada empat keranjang, masing2 isinya 2 apel : 2+2+2+2 = 4×2 = 8) adalah ALAT BANTU untuk mengenalkan konsep perkalian. Bukan proses yang harus diikuti secara kaku. Selain alat bantu pengenalan konsep, juga MENUNTUN logika berpikir anak (ya itu, makan 3 x 1 hari tidak sama dengan makan 1 x 3 hari). Jadi ketika anak bisa menyimpulkan sendiri bahwa NOTASI perkalian itu tidak mengikat letaknya (komutatif, bisa tukar tempat), maka dia tidak boleh disalahkan.

    • makan 3×1 hari (tiga kali satu hari) sama dengan makan 1 hari 3 kali.
      enggak masalah dan tetap benar baik logika, proses dan hasilnya.

      • Yang umum di tulis pada platik obat adalah pesan: 3 x 1, maka jangan coba2 minum obat 3 tablet 1 kali minum, hik hik hi k….

      • Salah membaca resep berarti. 3 x 1 bukan 3 kali 1 hari, tapi 3 kali 1 obat. Karena ada juga yg labelnya ditulis 3 x 2.
        Kalau dibaca 3 kali 1 hari berarti yang 3 x 2 di baca 3 kali 2 hari.

    • Menurut saya, metode pengajaran perkalian sebagai penjumlahan berulang (ada empat keranjang, masing2 isinya 2 apel : 2+2+2+2 = 4×2 = 8) adalah sama saja dengan ada masing-masing 2 buah apel di dalam 4 keranjang = 2×4 = 8.
      Enggak masalah dan tetap benar baik logika, proses dan hasilnya.

    • (ada empat keranjang, masing2 isinya 2 apel : 2+2+2+2 = 4×2 = 8)
      adalah sama dengan ada masing masing 2 apel di dalam 4 keranjang
      = 2×4 = 8

  12. Guru dan penulis di atas enggak usah bela diri dan menganggap diri benar. minta maaf lah dan akui kekhilafan Anda.

    Kelak di masa mendatang, mohon hati-hati dalam mengajar dan memberi penilaian terhadap murid-murid Anda.

    Tetap semangat dalam mengajar matematika!

    • Kalo dalam matematika atau ilmu hitung lainnya, yg namanya proses itu penting.

      Misalnya ada soal berapa luas persegi yang panjangnya 20 satuan panjang dan lebarnya 10 satuan panjang?

      Kalo langsung dijawab 200 satuan luas, emang jawabannya benar. Tapi dari mana bisa dapet hasil segitu?

      Itu kan mapel SD, anak SD diajari ilmu dasar, diajari bagaimana konsep matematika, apa itu perkalian, dll.

      • semua penting, tentu saja kalau sudah bisa dijawab dengan 200 satuan luas, pasti yg menjawab juga sudah mengalami proses berhitungnya. dari mana bisa dapat hasil segitu, silakan anda tanya sendiri sama yg jawab segitu. begitu ya ibu mifta.🙂

  13. Perkalian bilangan 4 bisa dituliskan dengan 2 cara
    1. 4×1, 4×2, 4×3, … 4xn
    2. 1×4, 2×4, 3×4, … nx4.
    Sama aja dan tidak menyalahi aturan perkalian dan logika matematika serta konsep matematika.
    itu berlaku di setiap perkalian bilangan yang lainnya.
    semoga bisa dipahami.

    • Te Chuxian Jin, saya perhatikan anda memang ahli dalam membolak-balik kata-kata. istilah orang tempo doeloe “pandai bersilat lidah”.
      sekarang saya tantang anda utk membolak-balik kalimat prof LAPAN
      “ahmad membawa 6 bata sebanyak 4 kali” Pasti anda akan menjawab “ahmad membawa 4 kali sebanyak 6 bata”.
      Ancur kan kalimatnya, eh ente tau gak bahwa logika itu bukan hanya bermain kata-kata, tetapi harus terukur.

    • JIn tolong jawab dengan penjabaran 4y=24 dan 6y=24…. brp y..??

    • anda bagusnya balik lagi sekolah SD kelas 2aja daripada anda sesat mikirnya…wkwkw

  14. Memang dalam matematika sifat perkalian itu dibolak-balik itu sama hasilnya. Tapi, yg saya tangkap dari soal itu, itu soal tentang konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang.

    Dalam konsep itu, ada pemahaman mana yg sebagai pengali dan mana yg dikalikan.

    Apa bedanya “empat kali enam” dengan “empat dikali enam”?

  15. Profesor Ahli Antariksa memberi penjelasan begini:
    “Ahmad dan Ali harus memindahkan bata yang jumlahnya sama, 24. Karena Ahmad lebih kuat, ia membawa 6 bata sebanyak 4 kali, secara matematis ditulis 4 x 6. Tetapi, Ali yang badannya lebih kecil, hanya mampu membawa 4 bata sebanyak 6 kali, model matematisnya 6 x 4. Jadi, 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4, berbeda konsepnya dengan 6 + 6 + 6 + 6 = 4 x 6, walau hasilnya sama 24,” terang Thomas.”

    selengkapnya di :
    http://www.islamedia.co/2014/09/profesor-ahli-antariksa-4-x-6-berbeda.html

  16. saya rasa gurunya terlalu berlebihan untuk menilai hal tersebut. dalam memberikan soal hanya menggunakan angka saja tidak ada suatu objek yang dijadikan acuan seperti jeruk, ayam dll. jadi wajar saja sianak menjawab dengan hal bgtu, kecuali guru tersebut membuat soal dengan menggunakan objek seperti contoh buku pelajaran diatas. kita selalu menggunakan logika untuk mengajari anak dalam matematika dengan kata2 yang dapat dimengerti anak dengan mudah, tidak perduli dengan contoh objek logika yang kita berikan asal dari tujuan tersebut adalah benar. o y untuk masalah resep dokter 3×1 untuk obat saya rasa juga dokter menjelaskan arti 3 x1 itu, bukan memberikan tanpa menjelaskan, jadi saya rasa ga ada hubungannya dengan kasus ini

    • Dalam memberikan soal latihan itu, sudah berdasarkan penjelasan dan latihan sebelumnya.
      Hanya kekurangan guru dalam memberi skor nilai saja.
      Si guru tidak salah, si anak juga tidak salah.
      Yang salah yang ngajari ngerjakan PR.

  17. yang hanya beroreantasi pada hasil saja akan menjawab 4+4+4+4+4+4=4X6=24, 4+4+4+4+4+4=6X4=24, 4+4+4+4+4+4=8X3=24, 4+4+4+4+4+4=12X2=24, 4+4+4+4+4+4=24X1=24……..semua pernyataan benar…., cuma ada yang bermakna ada yang tidak bermakna.

  18. lalu kalo demikian kita (saya) sebagai orang tua yang memiliki anak usia SD apa bila mengajarkan metematika seperti perkalian tersebut harus lebih mengutamakan HASIL / PROSES / KONSEP / URUTAN..??? mengingat hal tersebut seperti telah mendarah daging dalam diri kita bahwa 6×4 atau 4×6 itu sama saja. lalu apakah anak SD sudah saatnya diajarkan filosofi (itu bahasa saya) matematika karena sebagian para ahli berpendapat bahwa 6×4 itu berbeda konsep dengan 4×6

    • mungkin ini salah satu yang ingin diajarkan sejak dini, bahwa anak harus mengerti apa yang dikatakannya, bukan sekedar verbalisme (mengatakan dan tidak tahu maknanya)
      Mengatakan 6 kali 4 harus dalam pikirannya diusahakan mengetahui maknanya.
      Kalau sekedar mengutamakan hasil. mudah saja mengajar perkalian di SD. Anak suruh menghapalkan dengan suara lantang.
      4×6=24
      4×7=28
      4×8=32 dst.

  19. aneh pelajaran sekarang😦
    bukankah matematika itu mudah… http://www.matematikaria.com/associative-commutative-distributive.html

  20. Kalau ini matematika bukan ya….

    Di pelepah pohon kelapa terdapat 10 ekor burung, efans menembak burung tersebut, jatuhlah seekor burung kena peluru efans. berapakah yang teringgal di dahan pohon kelapa?..

    yang jawab 9 tolong di praktekin…, (akan tidak ada lagi burungnya kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr terbang )

  21. JIn tolong jawab dengan penjabaran 4y=24 dan 6y=24…. brp y..??

  22. jin,tolong jawab pertanyaan bang topan!!!malah ngilang

  23. sorry tapi menurut w lu semua tu BEGO yg blang gurunya bner.
    jlas – jelas dalam hal ini ank klas 2SD harusnya diajarkan cara berfikir bahwa penjumlahan berulang itu sama dengan bila dikalikan.
    jadi asal 24 itu benar..

    klo masalah 6×4 beda sm 4×6 buat ank smp w maklumi gurunya boleh bilang salah.

    BEGO BEGO wkjajkaka kek gni masi aja pke profesor”an mikir gelar kek bego bner ini buat kelas 2 SD bkan SMP keatas

    • bner tuh profesor apaan gnian masi jelasin ga guna.
      kerjain tu cari penemuan sana ccd. duit duank mikirnya.

      kelas 2SD d samain kyk tingkat menegah keatas ccd cok

    • metode pembelajaran perkalian di kelas kecil seperti ini sy sudah mengajarkan bahkan sejak 14 tahun yg lalu.gak ada yg ngeributin.
      justeru kelas kecil yg ada pembelajaran konsep ini. kalau sudah kelas 4 SD ke atas mah konsep ini sudah tertanam, gak perlu lagi dengan penjumlahan berulang.

      • dari kelas 2SD diajarin ngeributin masalah 6×4 beda 4×6?
        terus soal yg bilangan mencari hasil dari bilangan x bila 4x-2=24 dan 6x-4 =24 gmn?
        ini soal basic klo basic udah diributin 6×4 beda sama 4×6 dikedepannya malah lebih membingungkan buat menyeleseikan masalah pencarian bilangan imajiner dll.

        ini kurikulum yang bodoh apa gurunya yg mw instance ?

      • kalau konsep dasar udah dihancurin lalu gmn buat nyelesein masalah lebih susah ??.

        g seharusnya ank kelas 2 yg seharusnya diajarin dasar”nya malah disalahkan.
        kalau dasar udah kuat baru maen tes” logika kyk 6×4 beda sm 4×6? jelasin argumennya gmn

        besic belum kuat udah maen salah”an yg bner aja. anda guru?? perbaiki caramu mengajar

  24. tambahan:ini masalah sepele tapi coba pikirin. kalau misal ank kelas 2 td dikasih uang 2000 5 lembar lalu ada trus disuruh beli makanan harganya 5000 2 bungkus. si ank otomatis bilang loh kok uangnya ga sama buk gmn?

    masalah sepele tapi uda diributin yg bodoh siapa?? basic itu penting apalagi buat ank” yg baru belajar jngan main instan aja

  25. 4 x 6 dengan 6 x 4 secara nilai atau hasil memang sama, tetapi secara konsep aplikatif sangat berbeda.
    Kenyataannya saya hutang uang di bank mengangsur 6 x dengan mengangsur 4 x jauh berbeda.
    Sy utang uang 24juta sy mengangsur 6 x berarti setiap bulan harus nyediakan uang 4 juta. Sedangkan mengangsur 4 x, berarti setiap bulannya harus menyediakan uang 6 juta.
    Itulah yang saya katakan sangat berbeda konsepnya.
    Anak kecil berpikir real bukan konsep yang abstrak dan tidak bermakna.

  26. LOGIKA GAMPANGNYA di resep obat tertulis 3 x 1 apakah anda minum obat 3 obat sekaligus dalam sekali minum, atau 1 obat dalam 3 kali waktu (pagi siang sore)???? Jadi semua tergantung “SOALNYA” dalam soal anak kelas 2 itu tidak ada soal cerita maupun embel-embel apa-apa, jadi SAH-SAH saja jawab 1×3 atau 3×1. Lagian masih kelas 2 SD yang terpenting adalah skil matematikanya soal pengetahuan bisa dijabarkan kemudian.

    • Ini masalah makna 4 x 6 dengan 6 x 4 bukan masalah hasil. Kalau masalah hasil yg tanpa makna maka memang benar.
      Dan membaca 6 kali 4 tanpa soal cerita pun, harus memiliki konsep yg benar, yakni ada angka 4 muncul sebanyak 6 kali.
      Sedang kalau 4 kali 6 artinya ada angka 6 muncul sebanyak 4 kali.
      Jadi kata ‘kali’ melekat pada angka yg diikutinya.
      Dalam kasus guru dari adiknya Erfas, soal cerita itu sudah dijelaskan di kelas. Guru memberi soal latihan untuk mengaplikasikan konsep yg telah diterima di kelas.
      Yang menjadi masalah adalah yang mengerjakan adalah Erfas yang tidak ikut pembelajaran di kelas.

    • Dan biasanya lagi,,, kalo kita ke studio Photo, 4×6=dapet 6 lbr 5000 rupiah selesai 3 hari. wkwk

  27. Yang benar gurunya, karena ini matematika harus berdasarkan proses dan logika, buka berdasarkan hasil saja.. yag bisa dipertanggung jawabkan… terima kasih

  28. Perlu dipahami beda persepsi antara “KALI” dan “DIKALI”, 2 DIKALI 3 itu yg paling tepat 2+2+2, namun 2 KALI 3 itu tepatnya 3+3.

  29. ada guru ada murid. kalau ada murid yang tulalit soal pelajaran, kemungkinannya ada dua sebab. pertama, memang dasar muridnya yang tulalit. kedua, sang guru tidak bisa mentransfer ilmu kepada muridnya. GITU AJA KOK REPOT

  30. yang harus dijawab proses atau hasil akhirnya ?matematika itu aneh loh. bisa saja prosesnya salah tapi hasilnya benar, prosesnya benar dan hasilnya benar. coba kalo ada soal 1+2×3, ada yang jawab 9, ada juga yang 7.

    • proses dan hasil Mas, makanya dlm kasus Erfas dan guru kelas 2 SD tersebut. hrs dilihat soal PR bagaimana.
      kalau soalnya 4+4+4+4+4+4 = ….x….= ….
      Maka gurunya salah dlm memberi skor nilai, harusnya hasilnya diberi skor juga, bukan diberi nilai 0.
      Kalau soalnya 4+4+4+4+4+4 = ….x….= 24
      maka gurunya mau menilai prosesnya saja, maka jika dianggap salah lalu diberi skor 0 itu sudah benar.

      • Setuju alias se tuju artinya se=1 dan tuju=7. maka marilah kita nyanyikan lagu,,,, 17 agustus tahun empat lima, itulah hari kemrdekaan kita. Hari merdeka, nusa dan bangsa hari lairnya bangsa Indonesia,,, Merdeka.!!!!!!

  31. YA ALLOH !!!! SILUMAN PRESSS DENGAN GARIS MERAH BESAR . SILUMAN !!!!!! GURU MATEMATIKA SD KELAS DUA KIRIMAN DARI NEGARA MANA?INI ILMU MATEMATIKA KAN ILMU PASTI TOTAL SAKLEK. KENAPA JADI ILMU BELEBER NDELEDEK BERKRIDA BAHASA?PENYAMPAIAN YG MEMBUAT BINGUNG SISWA.YG SIMPLE KOK DIBUAT BUNDET. SIFAT PASTI DASAR PERHITUNGAN MATEMATIKA UNTUK PERKALIAN DAN PENJUMLAHAN . ADALAH SIFAT KOMUTATIF. A X B = B X A. JIKA A X B TIDAK SAMA DENGAN B X A. HUMAN ERRRORRRR SUDAH GURU SILUMAN INDONESIA!!!!! MAKIN ANEH SAJA. UDAH BUKU DIPERSULIT SISWA DIMINTA UNTUK MEMBELI SLIDE MOVIE. SILUMAN DARIMANA KALIAN?

  32. SILUMAN DARIMANA KALIAN? BUKU DIPERSULIT SISWA DIMINTA MEMBELI SLIDE UNTUK MEMUTAR MOVIE? SILUMAN DARIMANA KALIAN? JAWAB! SILUMAN DARIMAN KALIAN? SECURANG ITU KALIAN? JAWAB!SESIMPLE ITU SUDAH SAKLEK ALJABAR ILMU PASTI LOGIKA SUDAH DITEGASKAN TURUN TEMURUN. SIFAT SIFATNYA JUGA SUDAH SAKLEK DIJELASKAN DENGAN BAIK SIFAT KOMUTATIF DISTRIBUTIF ASOSIATIF. ITU SIFAT DASAR BASIC. PALING DASAR SAKLEK. MASIH DIBUAT DIPERSULIT MENGADA NGADA. SILUMAN DARIMANA KALIAN?

    • Sebenarnya sederhana,
      dlm perkalian ada pengali dan ada bilangan yang dikali.
      6×4=> dibaca 6 kali bilangan 4. Bilangan 6 disebut pengali, dan bilangan 4 disebut bilangan yang dikali/diulang.

      Maka 6 x 4 mempunyai makna bilangan 4 dikali/diulang sebanyak 6 kali, 6 sbg pengali dan 4 sbg bilangan yg dikali/diulang. Sehingga penulisannya menjadi 4+4+4+4+4+4

      Dg konsep spt itu maka dibolak-balik pun akan tetap menghasilkan logika yg sama.

      Sedangkan orang yg kontra dg konsep logika itu mereka mengajukan alasan spt ini:
      4×6=24
      6×4=24
      Jadi 4×6=6×4

      Mereka tentu tdk salah karena mereka bicara mengenai HASIL KALI,
      tetapi konsep spt itu jika dipaksakan dalam
      kaitan 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4
      Ibaratnya memaksakan mengenakan celana utk dipakai di kepala.
      Atau bukan pada tempat yg semestinya.

      Orang berdebat tentang dua hal yg berbeda.
      Si guru SD mengajarkan tentang PERKALIAN SEBAGAI PENJUMLAHAN BERULANG yg notabene adalah PRA PERKALIAN
      tetapi para netter, facebookers, dsb bicara mengenai SIFAT-SIFAT PERKALIAN.

      .

  33. dari awal matematika adalah ilmu kesepakatan dari suatu proses matematika. sekarang ambil contoh kalau kita ngomong 1 + 1 = 2, sepakat!!! , maka dari embah buyut sampai cucu cucu kita nanti jawabannya pasti gak boleh berubah. tetap 2. Sama halnya 4×6=24 atau 6×4=24 sekarang sepakat yang mana?……….jangan dijawab sebab masing-masing punya teori dan konsep yang oke. sekarang yang dipikiran bahwa kita sudah menciptakan generasi yang bingung tentang konsep yang tidak punya satu kesepakatan.

    • Ini kesalahan Kurikulum yang berubah ubah. Kira2 Partai Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih jawabannya apa ya???. Jangan kemana-mana, BERITA 4 dan LIPUTAN 6 akan kembali sesaat lagi.

  34. […] PDF File Name: Penjelasan guru matematika perkalian kelas 2 sd | cyber Source: r4dim.wordpress.com » DOWNLOAD « Belajar matematika kelas 2 – android apps on google play Belajar matematika kelas 2. 37. […]

  35. Mohon pencerahannya.. kira-kira media seperti apa yang pas untuk digunakan agar siswa kelas 2 memahami konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: