Salah Kaprah Penggunaan Kata “Sing” Pada Masyarakat Solo

Masyarakat Solo memiliki dialek tersendiri dalam penggunaan kata “sing” dalam tutur bahasa sehari-hari. Yang dimaksud Solo di sini adalah masyarakat yang berada di wilayah bekas karesidenan Surakarta, yang meliputi:  Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Boyolali. Berdasarkan pengamatan penulis, masyarakat dari daerah tersebut memiliki kesamaan dalam penggunaan kata “sing”. Dalam judul penulisan ini saya beri judul “salah kaprah” karena menurut penulis, mereka menggunakan kata “sing” adalah salah tetapi sudah kaprah, atau sudah dianggap benar. Dalam pembahasan ini, yang dimaksud “orang Jawa lainnya” adalah orang Jawa yang tinggal di Yogyakarta, Jawa Tengah (selain Solo), dan Jawa Timur. Orang jawa selain Solo, memiliki kesamaan dalam penggunaan kata “sing”.

Contoh soal:
Pertanyaan: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku dimana?
Jawaban: Sing tuku buku nang toko Gramedia. // Yang membeli buku di toko Gramedia.

Penduduk Solo mengungkapkan pertanyaan di atas dengan maksud menanyakan tempat membeli buku dimana. Maka marilah kita analisa. Jika pertanyaan tersebut dilontarkan pada masyarakat Jawa di luar Solo. Maka akan menjadi dialog demikian:

Orang Solo: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku dimana?
Orang Jawa lain: Sing tuku buku wis lunga. // Yang membeli buku sudah pergi.

Dialog menjadi tidak sambung. Karena penggunaan kata “Sing” dalam dialog di atas bagi orang Jawa lainnya adalah menanyakan subjek. Sedangkan maksud orang Solo mereka menanyakan keterangan tempat. Untuk lebih jelasnya marilah kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dialog antara orang Solo dengan orang Solo (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat).
Pertanyaan: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku di mana?
Jawaban: Sing tuku buku nang toko Gramedia. // Yang membeli buku di toko Gramedia.

Dialog antara orang Jawa lainnya (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat):
Pertanyaan: Tukune buku nang ngendi? // Membelinya buku dimana?
Jawaban: Tukune buku nang toko Gramedia. // Membelinya buku di toko Gramedia.

atau

Dialog antara orang Jawa lainnya  (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat):
Pertanyaan: Le tuku buku nang ngendi? // Membelinya buku dimana?
Jawaban: Le tuku buku nang toko Gramedia. // Membelinya buku di toko Gramedia.

Penggunaan kata “sing” dalam pertanyaan dengan maksud menanyakan subjek, antara orang Solo dengan orang Jawa lainnya tidak ada perbedaan.
Contoh dialog pada umumnya (Dengan maksud menanyakan subjek):
Pertanyaan: Sing tuku buku sapa? // Yang membeli buku siapa?
Jawaban: Sing tuku buku Paeran. // Yang membeli buku Paeran.

Dengan melihat contoh kasus di atas, maka bagi orang Solo dalam mengungkapkan pertanyaan menggunakan kata “sing”, tidak ada perbedaan antara maksud menanyakan subjek dengan maksud menanyakan keterangan tempat. Keduanya menggunakan kata “sing”.
Contohnya:

  1.  “Sing tuku buku sapa?” Dengan maksud: Yang membeli buku siapa?
  2.  “Sing tuku buku nang ngendi?” Dengan maksud: Membelinya buku dimana?
  3.  “Sing nulis sapa?”  Dengan maksud: Yang menulis siapa?
  4.  “Sing nulis nang ngendi?” Dengan maksud: Menulisnya dimana?

Dialek tersebut di atas (nomor: 2 dan 4) bagi orang Jawa lainnya akan terasa aneh dan lucu, tetapi bagi orang Solo akan terasa biasa. Dialek di atas jika diterapkan pada orang Jawa lainnya akan menjadi seperti berikut ini:

  1.  “Sing tuku buku sapa?” Dengan maksud: Yang membeli buku siapa?
  2.  “Tukune buku nang ngendi?” atau “Le tuku buku nang ngendi?” Dengan maksud: Membelinya buku dimana?
  3.  “Sing nulis sapa?”  Dengan maksud: Yang menulis siapa?
  4.  “Nulise nang ngendi?” atau “Le nulis nang ngendi?” Dengan maksud: Menulisnya dimana?

Perbedaan lain yang saya temukan adalah dalam penggunaan kata “karak ” –baca: karag-. Kata “karak” bagi masyarakat Solo menunjuk makanan berupa kerupuk yang terbuat dari nasi. Bagi orang Jawa lain akan menyebut makanan itu dengan nama “lempeng” atau “krupuk puli”. Bagi orang Jawa lainnya, “karak” adalah nasi yang dijemur dan menjadi kering.

Itulah sekelumit pertentangan bahasa yang sering kami alami antara saya dengan isteri. 😀 😀 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: