Makna Filosofi Presiden Joko Widodo atau Jokowi Mengenalkan Menteri di Tangga Istana Merdeka

Seperti telah kita saksikan melalui layar televisi, pada Rabu, 23 Oktober 2019 sebelum diadakan acara pelantikan Kabinet Indonesia Maju, Presiden Joko Widodo atau yang kita panggil akrab Pak Jokowi dan Wakil Presiden Pak Ma’ruf Amin terlebih dahulu memperkenalkan para menteri sambil duduk di tangga depan Istana Merdeka. Berbagai penilaian dan spekulasi terhadap maksud dan tujuan cara ini pun bermunculan yang dikemukakan oleh berbagai komentator di bidangnya masing-masing.

Perkenalkan MenteriJokowi kenalkan para menteri di Kabinet Indonesia Maju. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Memang cara memperkenalkan para menteri di luar gedung dengan cara duduk di tangga apalagi dalam situasi di bawah terik panas matahari cukup unik dan menorehkan kesan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Ada yang memberikan penilaian secara psikologis bahwa cara tersebut untuk menunjukkan kesan ajakan untuk santai tetapi serius, seperti diungkapkan pakar gestur dari Paul Ekman International Indonesia, Monica Kumalasari melalui laman detik.com.

Saya sendiri memiliki penafsiran dan penilaian tersendiri terhadap cara Pak Presiden tersebut. Saya lebih memaknai secara filosofis. Pak Jokowi mengenalkan para menterinya melalui cara duduk di tangga dalam situasi panas matahari saya artikan tersendiri. Tangga depan rumah seperti layaknya tangga di depan Istana Merdeka tersebut dalam bahasa Jawa sering disebut “bebatur” atau orang Solo menyebut “baturan”. Bebatur atau baturan berasal dari kata dasar “batur” yang artinya “pembantu” atau “pelayan”. Bebatur atau baturan bisa diartikan sebagai tempatnya batur atau tempatnya pembantu/pelayan.

Dengan demikian saya dapat memaknai, bahwa Pak Presiden dan Wakil Presiden beserta para menterinya adalah bertindak sebagai pembantu atau pelayan bagi rakyat Indonesia. Hal ini sesuai dengan paradigma sekarang ini, bahwa para pemimpin sebenarnya tak ubahnya sebagai pelayan. Semakin tinggi kedudukan dalam kepemimpinan, hakikatnya semakin banyak yang harus dilayani dan tanggung jawab pelayanan yang harus dijalankan juga semakin besar. Seperti dalam falsafah kuno disebutkan bahwa, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya“.

Sedangkan dalam situasi di luar rumah yang terkena terik panas matahari, juga bisa dimaknai bahwa Presiden, Wakil Presiden, dan para menterinya tidaklah siap untuk menjadi pemimpin yang ongkang-ongkang di belakang meja di ruang ber-AC yang nyaman. Tetapi sebaliknya bahwa mereka bersiap-siap diri untuk berjerih payah dalam panas terik matahari dan segala situasi yang tidak nyaman dalam melaksanakan tugas untuk mewujudkan Indonesia Maju.

Inilah para pelayan rakyat Indonesia yang siap berjerih payah dalam terik panas matahari dan hempasan badai demi Indonesia Maju.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: