Cewek Bugil dan Sopir Taksi

 

Cewek Gadis Bugil

Terjadi di Jakarta,

Cewek Bugil yang hanya mengenakan CD dan bra naik taxi. Sang Sopir melotot, takhayal si cewek pun marah…

“Nggak pernah lihat orang Bugil, kali!!?” celetuk si Cewek.

Sang Sopir menjawab,

”Aku cuma bingung, kamu nanti ngeluarin duit dari mana?”

Cewek itu pun kembali bergumam,

”Kan tinggal gesek Bang!”

Sambil mengemudi, Si Sopir terdiam seribu bahasa, dia memutar otak untuk menebak maksud kata-kata terakhir tersebut.

Iklan

Ternyata Orang Indonesia Pernah ke Matahari

Paino pemuda lugu jebolan SMP itu sedang melancong di Bali bersama 2 pemuda kawan akrabnya. Maklum anak dari desa yang jarang ketemu orang asing, makanya ketika lihat bule yang sedang didis (red:berjemur) ia mulai bertingkah. Dengan modal sedikit ingatan pelajaran bahasa Inggris waktu di bangku sekolah, ia menyapa seorang turis asing, “Halo mister, hao a yu?” “Halo jiuga”, sahut bule tersebut sambil tersenyum ramah, “qabar siaya vaik-vaik , qamu?”

“Wow, ternyata sampeyan bisa bahasa Indonesia mister.” seru Paino sambil terheran-heran.

“Iya, xaya siudah aqak lama di Indonesia”, jawab si bule. “Sampeyan orang mana mister?” Paino semakin antusias untuk bertanya.

“Xaya dari USA”, jawab si bule. “Yu es e itu mana mister”, tanya Paino dengan lugunya. “Amerika”, jawab si bule.

“Ooo, sampeyan dari Amerika to!, Katanya, orang Amerika itu pinter-pinter dan canggih-canggih, mister?” lanjut Paino.

“Ah, thidak jiuga, orang Indonesia jiuga vinter-vinter,” jawab si bule merendah.

“Iya memang benar mister, orang Indonesia itu lebih pinter dari orang Amerika!”, seru Paino dengan bangganya.

“Bwenar begicu? bwuktinya ava?” tanya si bule dengan heran.

“Kalo orang Amerika pernah ke bulan, orang Indonesia ada yang pernah ke matahari, mister,” kata Paino sambil menepuk dada.

“Ah, tidak mwungkyin, itu matahari vanas, tentu akan tervakar, meleleh dan jadi gas itu orang, atau malah hilang tanva bekas,” sangkal si bule.

“Itu kalo gak tahu caranya mister.” jawab Paino.

Si bule tambah heran, “Cyaranya vagaimana?”

“Caranya, berangkat sehabis maghrib mister, dan pulang lagi sebelum subuh.”

  

Pengalaman Mengerikan Berjumpa Dengan Hantu

Masih terbayang jelas masa-masa kecil kami di sebuah desa yang damai jauh dari keramaian kota, hanya dekat sawah ladang dan rimbunnya pepohonan yang semakin menampakkan keasrian alam.

Siang itu sepulang sekolah kami berdua, saya dan Tanto mengikuti beberapa orang tua yang membawa sesaji untuk diletakkan di sebuah bekas sumur tua, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘sumur gedhe’. Meski kini yang ada cuma tinggal tanah kosong yang ditumbuhi semak-semak. Kami tidak tahu persis mengapa tempat itu menjadi dikeramatkan oleh warga kampung sampai saat itu. Kampung kami memang masih kental sekali dengan berbagai hal yang bersifat animisme. Sehingga setiap ada warga yang mempunyai hajat seperti penganten dan sunatan, kami akan dengan mudah menjumpai sejumlah sesaji yang dihidangkan pada sebuah ‘encek’, semacam bambu yang dianyam sedemikian rupa agar bisa untuk menaruh berbagai makanan sesaji, yang diletakkan di tempat-tempat yang dianggap keramat.

Setelah selesai melakukan upacara kecil peletakan sesaji dalam rangka pernikahan Mbak Karni tetangga kami, kami pun ikut pulang. “Nanti malam kamu ikut lagi nggak?” tanya Mbah Paijem kepada kami. “Kemana Mbah?” dengan sedikit penasaran kami menanggapinya sambil meneruskan perjalanan menyusuri jalan setapak di pinggir sungai. “Ya mengantar sesaji lagi,” sahut Lik Minah. Tanto yang agak penakut itu turut berbincang, “Ya ikut to Lik, tapi mengapa kok malam?” “Ya, karena memang syaratnya begitu,” lajut Lik Minah.

Hari terasa semakin panjang, karena kami terus memikirkan acara sesaji yang akan kami ikuti malam harinya, meskipun dengan keragu-raguan, jadi ikut atau tidak. Akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu datang juga. Saat ini temanku, Heru bergabung dengan kami sehingga kami menjadi bertiga untuk mengikuti acara peletakan sesaji di bawah pohon besar yang tidak jauh dari makam desa. Malam itu terasa lebih sunyi dari malam-malam sebelumnya, yang terdengar hanya nyanyian binatang serangga malam, yang sesekali diselingi suara burung hantu yang tentu menambah bulu kuduk kami mengkirik.

Kami bersama menyusuri jalan setapak hanya dengan diterangi dua buah obor yang terbuat dari bambu yang ujungnya diberi sepet (kulit kelapa) dan diberi minyak tanah. Maklumnya saat itu listrik belum masuk desa, lampu senter pun jarang dimiliki oleh warga. Lik Minah kulihat membawa minuman dalam ceret dan juga plastik yang di dalamnya diisi gelas, sedangkan Mbah Paijem seperti tadi siang yang membawa sesaji yang diletakkan di atas encek. Malam itu kami ditemani Pak Paino yang membawa obor berjalan paling depan.

“Masih jauh Mbah?” tanyaku dengan suara lirih, sekedar untuk mengurangi rasa takutku. “Nggak, tuh sudah dekat.” jawab mbah Paino. Dalam keadaan gelap kami samar-samar melihat pohon besar yang sangat rimbun sudah mulai nampak. ‘Mungkin pohon itu yang dituju,’ gumam saya dalam hati. Dan benar setelah kira-kira tinggal 5 langkah di bawah pohon besar tadi, Lik Minah menyuruh kami menunggu di tempat kami berdiri. Lik Minah dan Mbah Paijem mendekat ke pohon itu sambil berjalan jongkok. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara, apalagi berbicara. Suasana sunyi makin mencekam. Terlihat Mbah Paijem terlihat meletakkan sesaji tepat di antara dua akar besar, disusul Lik Minah seperti menuang minuman ke gelas lalu diletakkan di dekat sesaji itu. Tak lama kemudian mereka berdua mundur, dan Pak Paino ganti mendekat, obor ditangannya disodorkan ke arah saya, tanpa berkata sepatah katapun saya ulurkan tangan untuk menyambutnya, dan obor berpindah ke tangan saya. Saya perhatikan Pak Paino menyalakan api, ternyata ia membakar kemenyan yang memang menjadi salah satu unsur penting dalam sesaji. Agak lama Pak Paino duduk bersila di sana, sepertinya ia sedang mengucapkan mantra-mantra, yang kami tidak bisa mendengar sedikitpun apa yang diucapkannya. Lik Minah berdiri di dekat Tanto, “Lik, tadi menuang apa?” tanya Tanto. “Itu tadi kopi untuk minuman Kyai Danyang,” bisik Lik Minah.

Bau kemenyan yang menusuk hidung semakin membuat kami berdiri merapat, menandakan ketakutan semakin menjalar ke seluruh urat nadi. Sesekali saya pun memejamkan mata, tidak berani menghadapi jika terjadi hal-hal yang menakutkan. Saya merasakan keanehan, suara-suara binatang malam yang sejak perjalanan kami mengisi keheningan, kini sepertinya tak satupun juga yang berani bersuara. Tiba-tiba terasa hembusan angin dingin yang agak keras menerpa kulitku. Spontan seluruh bulu yang menempel di kulit badan terasa berdiri. Belum hilang rasa yang mencekam, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sesosok badan yang muncul dari balik pohon itu. Kami hampir lari bersama-sama, tetapi kami ingat pesan Pak Paino sewaktu di perjalanan tadi, kalau melihat sesuatu jangan ada yang lari atau pun berteriak. Remang-remang dibawah sinar obor, wajah sosok itu tidak tampak begitu jelas, dan samar-samar terlihat rambut panjang terurai yang menutupi wajahnya semakin membuat saya memutuskan untuk memejamkan mata. Tetapi sambil dipenuhi rasa penasaran, saya beranikan diri membuka mata, dan terlihat sesosok manusia tadi mengulurkan kedua tangannya, sepertinya mengacungkan jempolnya, disusul suara keras dari mulutnya, begini: “….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

….

“NUMERO UNO”

O, ternyata tadi sama Lik  Minah dikasih sesaji Indocafe Capucino. 

Bapaknya Ternyata Penjual Obat

Paikun masuk ke toko obat dan membeli sebuah kondom. Dengan riang dia bilang kepada pemilik toko bahwa sebentar lagi akan makan malam di rumah pacarnya.

“Bapak kan tahu sendiri, biasanya setelah itu kan ada kelanjutannya,” tambah Paikun sambil menyeringai. Kondom pun berpindah tangan.

Baru beberapa langkah ke luar toko, dia kembali masuk. “Saya minta satu lagi,” katanya.

“Adik pacar saya juga cantik. Agak genit pula. Saya rasa dia juga naksir saya. Siapa tahu malam ini saya mujur,” ungkapnya sambil menerima kondom kedua.

Paikun kembali masuk dan minta tambahan satu kondom lagi. “Begini, ibunya juga tak kalah seksi. Penampilannya jauh lebih muda dari usianya. Dan kalau duduk di depan saya, dia selalu menyilangkan kaki. Saya yakin dia juga tak keberatan kalau saya dekati”.

Dengan berbekal tiga kondom, Paikun datang ke rumah pacarnya sambil bersiul riang.

Makanan sudah siap. Pacar Paikun, adik dan ibunya sudah menunggu. Paikun pun langsung bergabung. Mereka lalu menunggu sang ayah.

Begitu sang ayah masuk ke ruang makan, Paikun langsung memimpin doa sambil menunduk dalam-dalam. Yang lain-lain ikut menundukkan kepala. Satu menit berlalu. Paikun makin khusuk berdoa. Dua menit, Paikun terus komat-kamit, cukup panjang untuk sebuah doa sebelum makan.

Pada menit keempat, pacarnya menyenggol kakinya dan berbisik, “Saya baru tahu kamu ternyata sangat religius”.

Sambil terus menunduk, Paikun menjawab dengan suara hampir menangis, “Saya juga baru tahu ayah kamu yang punya toko obat.”

Photo Artis “Sherina” Ketika Cuma Pakai CD

Mungkin ini sungguh keterlaluan bagi sebagian orang. Artis beken seperti Sherina dengan bangganya berpose cuma memakai pakaian CD. Coba saja perhatikan photo di bawah ini.

=

Sherina

Sherina Munaf

=

Lebih jelasnya lihat yang bawah ini:

=

=

=

=

=

=

=

=

=

=

Photo gadis memakai CD

Sherina Munaf