Aplikasi Android Keluarga Berencana KB Alami

Logo KBAlami

Keluarga Berencana KB Alami

Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan paling mulia di antara makhluk ciptaan lainnya, dengan dilengkapi struktur tubuh yang sempurna pula. Organ internal kewanitaan sebagai kaum hawa yang bertugas menurunkan generasi, memiliki struktur alat-alat internal/organ reproduksi yang unik dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut dalam hubungannya dengan penerusan keturunan. Hal ini telah menarik perhatian para peneliti untuk lebih lanjut mengembangkan berbagai metode perencanaan kehamilan dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Para ahli telah menemukan berbagai cara alamiah untuk menunda kehamilan atau sebaliknya, yaitu merencanakan kehamilan dan bahkan tekhnik untuk mencoba menentukan jenis kelamin calon anak idamannya. Hal ini didasarkan dengan keadaan struktur organ internal kewanitaan itu sendiri yang telah memungkinkan untuk melakukan hal-hal tersebut. Dalam hal ini, kita sebagai manusia yang beriman tentunya bukan bermaksud untuk mendahului kehendak dari Tuhan sang Pencipta, tetapi kita sebagai makhluk yang dikaruniai akal budi, kita tentu diwajibkan pula untuk melakukan usaha nyata sebagai pelengkap dari keyakinan dan iman kita kepada-Nya dan juga sebagai pengamalan ilmu yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Singkat kata usaha kita ini adalah suatu bentuk ikhtiar sebagai makhluk yang berakal budi.

Metode KB Alamiah tentunya tidak bertentangan dengan agama apa pun, dan bahkan merupakan upaya manusia untuk tetap menjaga keotentikannya sebagai makhluk yang luhur dan bermoral. KB Alamiah adalah suatu tekhnik merencanakan keluarga, dalam hal ini kehamilan dan kelahiran dengan cara-cara yang alami dan manusiawi dengan memanfaatkan segala daya yang telah diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia itu sendiri, yakni memanfaatkan organ biologis wanita, karunia Sang Pencipta. Tanpa perlu menggunakan alat-alat kontrasepsi yang justeru sering dipandang sebagai menentang dan melawan proses alamiah dan asali. Lebih jauh lagi, alat-alat kontrasepsi kadang mengandung resiko buruk terhadap kesehatan sang ibu yang tidak kita inginkan. Belum lagi resiko secara moral yang harus kita hadapi, karena metode alat kontrasepsi kadang dilihat sebagai cara menentang yang alami, dan diartikan sebagai menentang kehidupan itu sendiri. Karena ternyata bila kita cermati, kadang alat kontrasepsi bukan sekedar mencegah terjadinya pertemuan sel telur dengan sel sperma, tetapi ada yang bersifat membunuh sel hidup setelah terjadinya konsepsi/pembuahan. Yang berarti telah mematikan si calon manusia. Dengan menggunakan metode alami, ini semuanya akan dapat dihindari dan akan tetap berjalan dengan normal.

Dengan demikian metode KB Alamiah merupakan metode yang luhur dan mulia karena menjaga eksistensi keluhuran moral dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia. Buku ini menyajikan kepada Anda para ibu, bapak, dan kaum muda, suatu metode yang sangat bagus untuk perencanaan kehamilan, baik untuk menunda maupun menginginkan kehamilan. Dan terutama bagi para gadis calon ibu sebagai persiapan pernikahan, jangan sampai terjebak pada alat-alat kontrasepsi. Metode yang dipakai untuk KB Alamiah ada beberapa cara, antara lain metode ovulasi atau metode lendir, metode suhu badan, metode leher rahim, dan metode simtotermal. Namun di sini kami hanya akan menguraikan salah satunya yaitu metode ovulasi atau metode lendir yang memadukan dengan metode kalender. Karena metode ini yang paling mudah dipelajari dan aman, dimana penulis telah menjalankannya semenjak pernikahan sampai memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan. Sehingga kami menguraikan tentang KB Alami ini lebih bersifat sangat praktis berdasarkan pengalaman yang didukung teori-teori yang kami dapat dari referensi maupun kursus. Buku ini lebih berisi tentang sharing pengalaman dengan didasarkan pada sejumlah pengetahuan yang ilmiah dan metodis.

Pembaca bisa mendapatkan literatur yang telah kami uraikan di atas secara lebih lengkap, dan juga dilkengkapi dengan Aplikasi Android untuk melakukan observasi haid untuk menentukan siklus haid, prediksi haid berikutnya, prediksi masa subur, bahkan prediksi waktu akan melahirkan jika terjadi pembuahan/kehamilan.

Silakan instal aplikasinya dari Google Playstore dengan kata kunci KB Alami, atau jika saat ini Anda sedang membaca tulisan ini melalui android, Anda dapat langsung tap/klik link di bawah ini dan install di HP Android Anda.

Silakan klik link di bawah ini:

https://play.google.com/store/apps/details?id=id.rudimuryanta.kbalami

Selamat mencoba!

Salah Kaprah Penggunaan Kata “Sing” Pada Masyarakat Solo

Masyarakat Solo memiliki dialek tersendiri dalam penggunaan kata “sing” dalam tutur bahasa sehari-hari. Yang dimaksud Solo di sini adalah masyarakat yang berada di wilayah bekas karesidenan Surakarta, yang meliputi:  Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Boyolali. Berdasarkan pengamatan penulis, masyarakat dari daerah tersebut memiliki kesamaan dalam penggunaan kata “sing”. Dalam judul penulisan ini saya beri judul “salah kaprah” karena menurut penulis, mereka menggunakan kata “sing” adalah salah tetapi sudah kaprah, atau sudah dianggap benar. Dalam pembahasan ini, yang dimaksud “orang Jawa lainnya” adalah orang Jawa yang tinggal di Yogyakarta, Jawa Tengah (selain Solo), dan Jawa Timur. Orang jawa selain Solo, memiliki kesamaan dalam penggunaan kata “sing”.

Contoh soal:
Pertanyaan: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku dimana?
Jawaban: Sing tuku buku nang toko Gramedia. // Yang membeli buku di toko Gramedia.

Penduduk Solo mengungkapkan pertanyaan di atas dengan maksud menanyakan tempat membeli buku dimana. Maka marilah kita analisa. Jika pertanyaan tersebut dilontarkan pada masyarakat Jawa di luar Solo. Maka akan menjadi dialog demikian:

Orang Solo: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku dimana?
Orang Jawa lain: Sing tuku buku wis lunga. // Yang membeli buku sudah pergi.

Dialog menjadi tidak sambung. Karena penggunaan kata “Sing” dalam dialog di atas bagi orang Jawa lainnya adalah menanyakan subjek. Sedangkan maksud orang Solo mereka menanyakan keterangan tempat. Untuk lebih jelasnya marilah kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Dialog antara orang Solo dengan orang Solo (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat).
Pertanyaan: Sing tuku buku nang ngendi? // Yang membeli buku di mana?
Jawaban: Sing tuku buku nang toko Gramedia. // Yang membeli buku di toko Gramedia.

Dialog antara orang Jawa lainnya (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat):
Pertanyaan: Tukune buku nang ngendi? // Membelinya buku dimana?
Jawaban: Tukune buku nang toko Gramedia. // Membelinya buku di toko Gramedia.

atau

Dialog antara orang Jawa lainnya  (Dengan maksud menanyakan keterangan tempat):
Pertanyaan: Le tuku buku nang ngendi? // Membelinya buku dimana?
Jawaban: Le tuku buku nang toko Gramedia. // Membelinya buku di toko Gramedia.

Penggunaan kata “sing” dalam pertanyaan dengan maksud menanyakan subjek, antara orang Solo dengan orang Jawa lainnya tidak ada perbedaan.
Contoh dialog pada umumnya (Dengan maksud menanyakan subjek):
Pertanyaan: Sing tuku buku sapa? // Yang membeli buku siapa?
Jawaban: Sing tuku buku Paeran. // Yang membeli buku Paeran.

Dengan melihat contoh kasus di atas, maka bagi orang Solo dalam mengungkapkan pertanyaan menggunakan kata “sing”, tidak ada perbedaan antara maksud menanyakan subjek dengan maksud menanyakan keterangan tempat. Keduanya menggunakan kata “sing”.
Contohnya:

  1.  “Sing tuku buku sapa?” Dengan maksud: Yang membeli buku siapa?
  2.  “Sing tuku buku nang ngendi?” Dengan maksud: Membelinya buku dimana?
  3.  “Sing nulis sapa?”  Dengan maksud: Yang menulis siapa?
  4.  “Sing nulis nang ngendi?” Dengan maksud: Menulisnya dimana?

Dialek tersebut di atas (nomor: 2 dan 4) bagi orang Jawa lainnya akan terasa aneh dan lucu, tetapi bagi orang Solo akan terasa biasa. Dialek di atas jika diterapkan pada orang Jawa lainnya akan menjadi seperti berikut ini:

  1.  “Sing tuku buku sapa?” Dengan maksud: Yang membeli buku siapa?
  2.  “Tukune buku nang ngendi?” atau “Le tuku buku nang ngendi?” Dengan maksud: Membelinya buku dimana?
  3.  “Sing nulis sapa?”  Dengan maksud: Yang menulis siapa?
  4.  “Nulise nang ngendi?” atau “Le nulis nang ngendi?” Dengan maksud: Menulisnya dimana?

Perbedaan lain yang saya temukan adalah dalam penggunaan kata “karak ” –baca: karag-. Kata “karak” bagi masyarakat Solo menunjuk makanan berupa kerupuk yang terbuat dari nasi. Bagi orang Jawa lain akan menyebut makanan itu dengan nama “lempeng” atau “krupuk puli”. Bagi orang Jawa lainnya, “karak” adalah nasi yang dijemur dan menjadi kering.

Itulah sekelumit pertentangan bahasa yang sering kami alami antara saya dengan isteri. 😀 😀 😀

Lirik lagu dan chord gitar – Rossa Cinta Dalam Hidupku

Berikut ini kami suguhkan hal yang berbeda, semata-mata untuk memenuhi para pengunjung yang punya hobby musik.
Untuk melihat Chord Gitarnya saya suguhkan dalam versi Video silakan lihat DI SINI

Cinta Dalam Hidupku oleh Rossa.

Dalam mimpiku aku bermimpi
Tentang kekasih itu dirimu
Tambatan hati yang telah pergi
Hanya dirimu tak ada lagi

Hanya wajahmu yang terukir di dalam hatiku
Abadi dan takkan pernah terganti
Hanya kaulah cinta dalam hidupku
Meskipun langit t’lah memisahkan cinta kita

Aku kan selalu untukmu
Cintamu akan selalu bersemi di hidupku
Malam-malamku tanpa dirimu
Terbuai sepi dihias rindu

Resah didada ingin berjumpa
Ku tak berdaya terbang ke sana
Hanya wajahmu yang terukir didalam hatiku
Abadi dan takkan pernah terganti

Hanya kaulah cinta dalam hidupku
Meskipun langit tlah memisahkan cinta kita
Aku kan selalu untukmu
Cintamu akan selalu bersemi di hidupku

Hanya wajahmu yang terukir di dalam hatiku
Abadi dan takkan pernah terganti
Hanya kaulah cinta dalam hidupku

Meskipun sang langit
T’lah memisahkan cinta kita
Aku kan s’lalu untukmu
Cintamu akan selalu bersemi di hidupku

Untuk melihat video lengkap dengan vokalnya  silakan lihat DI SINI

PEMENANG REJEKI BNI TAPLUS

KATEGORI PERIODE TRIWULANAN – (OKTOBER sd DESEMBER 2015)
HADIAH 7 HONDA HR-V
Suliani, 158283XXX, Pematangsiantar
Lelin Mart, 263719XXX, Bandung
Ahmad Rifai, 194464XXX, Slamet Riyadi Solo
Retno Wilis, 146750XXX, Banyuwangi
Diyan Rizeki Mubarok, 178266XXX, Bontang,
Syamsul Bachri, 3107195XXX, Melawai Raya
Ayyu Wulandari, 257331XXX, Jatinegara

KATEGORI PERIODE BULANAN – DESEMBER 2015
HADIAH 50 VESPA PRIMAVERA
Darmiati HS Dra, 58421XXX, Lhokseumawe
Melva Paulina Triana Manullang, 347024XXX, Sibolga
Rusli Ibrahim, 308024XXX, Sigli
Muharli Ilham, 180940XXX, Rengat
Suriandi, 159915XXX, Selat Panjang
Wiyoto, 63185XXX, Solok,
Sasmayana, 179429XXX, Bengkulu
Desi Arisandi, 192925XXX, Kotabumi,
Johanis, 71087XXX, Kuala Tungkal,
Yudithia, 395767XXX, Garut,
Era Nofianti, 114170XXX, Majalaya
Jono Widiono Drs, 335459XXX, Subang
Setyo Budi Santoso, 245084XXX, Cepu
Diah Wahyuningsih, 175208XXX, Cilacap
Budiono, 186303XXX, Karangayu
Suratimah, 420262XXX, Magelang
Tien Kurniasari, 32563XXX, Tegal
Miftach Arifin Santoso, 43615XXX, Bojonegoro
Rosman Ariansyah, 298224XXX, Pasuruan
Miswan, 254781XXX, Probolinggo
Maksum, 256446XXX, Sidoarjo
Indah Wahyuni Se, 46452XXX, Tuban
Sidik, 84925XXX, Tulungagung
Hari Setiyono SH, 87396XXX, Bau-Bau
Susanto, 242059XXX, Kendari
Muhammad Radiyah, 86281XXX, Pare-Pare
Tuwuh Wijiastuti, 44828XXX, Kupang
Dahlan Drs, 54913XXX, Maumere
Glyn Thomas Smith, 191991XXX, Singaraja
Chelsia Oktavia, 397012XXX, Pontianak
Misto, 149650XXX, Sampit
Rustam Akif, 1981052XXX, Tanjung Redeb
Djaka Pantjahadi Noegraha, 82097XXX, Tarakan
Satria Yulfan, 186943XXX, Dukuh Bawah
Enggar Edma Sariwimala, 235658XXX, Melawai Raya
Tionas Panjaitan, 244558XXX, Senayan
Nurhayati, 11742XXX, Tebet
Jan Wala, 211586XXX, Tahuna
Een Nuraini Saidah SS, 314742XXX, Harmoni
Septi Hidayanti, 68962XXX, Pecenongan
Gunawan, 354207XXX, Roa Malaka
Agidanti Marreta, 332603XXX, Margonda
Dwi Kartini, 325552XXX, Serang
Bimo Agus Prihatono, 18462XXX, Tangerang
Budiyarto Makmur, 313976XXXUI, Depok
Hari Ichlas, 1700819XXX, Bekasi
Jaka Eka Prambudi St, 238276XXX, Karawang
Aldres Jonathan Napitupulu, 238747XXX, Kelapa Gading
Martini Ginting, 9925XXX, Kramat
Sodikin, 2802809XXX, Sorong

Informasi lebih lengkap kunjungiwww.bni.co.id atau hubungi BNI Call 1500046 / 68888 melalui ponsel.

Penjelasan Guru Matematika Perkalian Kelas 2 SD

Menyimak kasus Erfas yang mengunggah hasil PR adiknya di Facebook dan membuat heboh, saya sangat prihatin. Ini bukan lagi kasus anak kelas 2 SD dengan gurunya, tetapi menjadi kasus mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro dengan seorang guru kelas 2 SD, yang mempermasalahkan mengenai 6 x 4. Dan lebih luas lagi sang guru tersebut harus menghadapi bully dari banyak orang. Tugas guru di era digital dan era internet semakin berat, karena bukan saja menghadapi kesulitan siswanya, tetapi menghadapi kesulitan orang banyak. Karena semakin banyak orang yang sulit memahami suatu masalah, dan menempatkan pada posisi yang sesuai dengan porsinya.

Mungkin singkat saja yang saya tulis di sini. Bahwa guru tersebut sudah mengajarkan sesuai pedoman yang dimilikinya. Coba saja simak buku bse dari Pusat Perbukuan, “Senang Matematika”  untuk SD/MI kelas2 tulisan amin mustoha, dkk, halaman 123-129.

Memang yang diajarkan di sini adalah penanaman konsep Perkalian Sebagai Penjumlahan Berulang.

Konsep yang diajarkan adalah bahwa 6 x 4 dibaca 6 kali, 4. Dengan kata lain 4-nya 6 kali. Dalam bahasa inggrisnya 6 times 4
Sehingga 6 x 4 berbeda konsepnya dengan 4 x 6. Memang secara hasil 4×6=6×4.
Tetapi dalam aplikasi kehidupan sehari-hari 4 x 6 sangat berbeda dengan 6 x 4.

Contohnya:
Ali mengambil buah jeruk sebanyak 6 kali, setiap mengambil membawa 4 buah jeruk => 6 kali, 4 => 6 x 4.
Konsep “enam kali” sangat berbeda dengan konsep “empat kali”.

Dengan demikian kata “KALI” mempunyai makna tersendiri, bukan sekedar  simbol operasi/bahasa matematika. Tetapi nantinya dikaitkan dengan aplikasi pada mata pelajaran lain sesuai dengan tema yang diajarkan di SD, terutama pada kurikulum 2013 menggunakan model pembelajaran tematik.

Dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa siswa lebih dahulu mengerti tentang penjumlahan. Kemudian dengan jembatan pengetahuan sebelumnya, digunakan untuk menginjak ke pembelajaran selanjutnya tentang perkalian.

Anak lebih dahulu telah mengerti bahwa 4 + 4 + 4+ 4 + 4 + 4 hasilnya adalah 24.
Dari konsep itu anak dibawa pada pemahaman tentang perkalian,
bahwa 4 + 4 + 4+ 4 + 4 + 4 dibaca bilangan 4 ada 6 kali dengan kata lain 4-nya 6 kali.
Diubah ke bahasa matematika menjadi 6 kali 4 ditulis dengan simbol  matematika menjadi 6 x 4.

Jadi: 6 kali, 4 (6×4) berbeda dengan 4 kali, 6 (4 x6).

Konsep ini juga nanti akan dibawa pada pembelajaran Pembagian Sebagai Pengurangan Berulang.
24:4= 24 – 4 – 4 – 4 – 4 – 4 – 4 =0

Ini contoh hasil scan dari buku tersebut Perkalian Kelas 2 SD

Buku Matematika Kelas 2 SD.Buku Matematika Kelas 2 SD_0001

Buku Matematika Kelas 2 SD_0002 Buku Matematika Kelas 2 SD_0003